Berpijak di Bumi yang Rapuh

Berpijak di Bumi yang Rapuh
(Refleksi Hari Lingkungan Hidup Sedunia)
Langit begitu suram, udara panas, debu-debu kering bertebaran ke segala arah. Ia terus berjalan dengan kaki-kakinya yang ringkih pada tanah-tanah tandus nan gersang. Kedua tanganya yang kumal masih cukup kuat mengangkat barang-barang berserak yang harus ia bersihkan. Mondar-mandir dalam kesunyian ia terus mencoba menyelesaikan tugas yang dibebankan kepadanya. Seorang diri ditinggalkan di Bumi yang sudah kacau penuh polusi. Sedangkan si pembuat kekacauan pergi mengungsi ke luar angkasa dengan pesawat Axiom, tanpa tahu kapan harus kembali. Bumi sudah rusak secara permanen dipenuhi sampah-sampah elektronik dan tak dapat didaur ulang. Ia sendiri bersama gunungan sampah, tak ada hijau pepohonan, gemericik air, atau makhluk lain di Bumi.
Begitulah secuil cerita robot pembersih sampah dalam film animasi Wall-e, sebuah robot pembersih sampah yang ditinggalkan di Bumi. Diceritakan setelah berusia cukup tua, Bumi akhirnya tidak lagi layak dihuni oleh manusia. Situasi ini terjadi akibat dari kerusakan permanen lingkungan, terutama akibat sampah yang menggunung. Dan manusia si penyebab kerusakan, lari mengungsi ke luar angkasa.
Cerita dalam film Wall-E, memang suatu cerita fiksi dalam sebuah film animasi. Namun melihat kondisi Bumi saat ini, apa yang terjadi dalam cerita fiksi tersebut, bisa jadi menjadi kenyataan yang bakal terjadi di masa depan. Astronot Perancis, Thomas Pesquet pada tahun 2021 melaporkan kondisi Bumi yang menyedihkan, dalam keadaan rapuh akibat pemanasan iklim. Pesquet dari luar angkasa menyaksikan desruktifitas bumi akibat aktivitas manusia. Dari jarak 400 kilometer ia menyaksikan anggota planet ke-3 dari sistem tata surya tersebut penuh kekacauan alam.
Apa yang dilihat oleh Pesquet tersebut memang benar adanya, kerapuhan Bumi yang semakin nyata. Kita bisa melihat dalam kehidupan sehari-hari kita, bagaimana saat ini kita mengalami ketergantungan pada plastik. Greenpeace merilis 60% dari plastik yang ada di dunia merupakan plastik sekali pakai yang langsung dibuang setelah dipakai. Lalu kemana perginya sampah-sampah itu?, Kemana lagi kalau bukan ke daerah perairan seperti sungai, danau, laut, dan berserak tertimbun tanah tanpa teruai. Sedangkan pengelolaan sampah plastik masih tergolong rendah, serta tanggung jawab perusahaan terhadap sampah-sampah mereka pun masih minim.
Isu deforestasi juga semakin massif atas nama industri. Dari hasil analisis Greenpeace, 3.403.000 hektar (ha) lahan di Indonesia terbakar antara tahun 2015 sampai dengan 2018. Analisis Greenpeace Internasional mengungkapkan beberapa perusahaan ternama dunia berada di balik kebakaran hutan dan telah memicu perubahan iklim.. Industrialisasi yang masif dengan cerobong-cerobong asap, serta kendaraan bermotor yang semakin masal, menyebabkan polusi udara. Ketergantungan pada energi kotor ini, berkontribusi besar pada gas rumah kaca yang menjadi penyebab krisis iklim. Sampai mampu membobol lapisan ozon, lapisan yang melindungi makhluk Bumi dari bahaya ultraviolet, serta menjaga suhu Bumi tetap stabil. Lapisan di stratosfer tersebut dilaporkan sudah berlubang.
Jika di darat masalah sampah, deforestasi, serta polusi udara, di laut juga tak kalah mengkhawatirkan. Masih mengutip laporan Greenpeace, bahwa terumbu karang sebagai tempat bernaungnya biota laut, turut terancam. Saat ini, kondisi terumbu karang di Indonesia cukup mengkhawatirkan sebab 35,15% terumbu karang Indonesia masuk dalam kategori buruk. Terumbu karang yang buruk disebabkan oleh banyak hal seperti penangkapan ikan menggunakan bom. Hal ini berdampak pada suhu permukaan air yang meningkat akibat krisis iklim dan menyebabkan fenomena coral bleaching. Padahal, terumbu karang bisa membantu mengurangi pemanasan global karena mampu menyerap karbon dioksida. Hilang dan rusaknya terumbu karang berakibat fatal karena akan menyebabkan rusaknya ekosistem laut, yang kemudian akan berdampak pada menurunnya jumlah hewan laut secara drastis.
Begitulah ulah manusia yang berkembang di peradaban modern ini. Masyarakat modern yang ditandai oleh tipikal manusia yang berpijak pada pemikiran positivistik dengan pemujaan atas rasionalitas. Ilmu pengetahuan menjadi instrumen dalam kehidupan sehari-hari. Modernisme dengan ilmu pengetahuannya menjadi pintu masuk bagi manusia untuk membuka selubung misteri alam raya. Alam raya yang hendak ditundukkan manusia. Pencerahan manusia dengan rasionya telah berhasil membuka selubung misteri jagad raya. Manusia mematahkan selubung mistis yang membelenggu dirinya. Manusia tidak takut lagi jika gunung, hutan, sungai, serta lautan ada penunggu gaibnya. Manusia mulai mengontrol jagat raya dengan akal budinya melalui ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ilmu pengetahuan dan teknologi memang telah menimbulkan dampak positif luar biasa bagi peradapan manusia. Akan tetapi ketika semua peradapan itu diawali dengan berkuasanya akal pikiran manusia, maka sampailah kita pada akal pikiran yang mulai kehilangan kontrol. Manusia justru dikendalikan oleh ilmu pengetahuan teknologi. Melihat kondisi seperti ini Herbert Marcuse menyebutnya sebagai One Dimensional Man, manusia tidak lagi ditindas oleh manusia lainnya, namun manusia ditindas oleh sistem teknologi. Hukum teknologi telah mencengkram kuat yang mengatur dan memaksa manusia untuk tuntutan ekonomis dan politis manusia.
Dunia rupanya melesat maju tanpa kendali, runaway world” kata Giddens. Manusia kini telah menjadi makhluk yang mampu mengintervensi alam. Namun masih mampukah mengontrolnya? hingga menimbulkan kerusakan-kerusakan akibat keserakahan manusia sendiri. Manipulasi alam dengan mengeruk sebesar-besarnya kekayaan alam, menciptakan teknologi untuk menundukkan alam, hingga menimbulkan ketidakstabilan alam. Yang pada akhirnya menjadikan manusia berpijak di Bumi yang rapuh.
Ilmu pengetahuan dan teknolgi merupakan keunggulan manusia dibandingkan makhluk lain di Bumi ini. Namun penggunaan teknologi tanpa moral dan etika hanyalah bunuh diri perlahan untuk kehancuran Bumi dan masa depan manusia. Seperti yang terimajinasikan dalam film Wall-E, perlahan Bumi dan seisinya hancur karena ketamakan manusia. Gunakanlah ilmu pengetahaun dan teknologi beserta hasilnya secara bijak dan tidak berlebihan. Kesadaran akan kelestarian lingkungan harus kita utamankan sebagai tanggung jawab moral demi keberlanjutan generasi berikutnya. Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
Ditulis oleh Puji Laksono
(Pimpinan Redaksi Bidik)