Mojokerto, Bidik – Universitas KH. Abdul Chalim (UAC) Mojokerto menggelar Majelis Ilmu dan Dzikir di Aula Guest House Kampus UAC, Ahad (09/08/2026). Kegiatan yang menghadirkan Syaikh Prof. Dr. Mohammed Abdel Samad Mehanna, Syaikh Tasawuf Sunni Al-Azhar Mesir dan Mursyid Thariqah Muhammadiyah Syadziliyah, tersebut membahas Kitab Wusul Al-Wusul. Kajian ini menjadi bagian dari upaya memperdalam pemahaman keilmuan tasawuf melalui kajian kitab secara langsung bersama ulama dari Al Azhar Mesir.
Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya guru besar Universitas Al Azhar Mesir Syaikh Prof. Dr. M. Farag Salim Al-Azhari, dan Syaikh Ahmad Muhammad Mubarok. Kehadiran mereka turut disambut jajaran dekanat, kaprodi, dosen, dan sivitas akademika UAC. Kegiatan ini juga diikuti tamu undangan serta guru dan santri PP. Amanatul Ummah.

Majlis Ilmu dan Dzikir ini menjadi rangkaian pelaksanaan hari ke dua yang diselenggarakan di kampus UAC. Kegiatan tersebut dibuka untuk umum, sebanyak kurang lebih 200 peserta hadir dalam kegiatan tersebut.
Dalam kajian tersebut, Syaikh Muhammad Abdhusshomad Muhanna menjelaskan Wadzifah Zarruqiyyah yang terdapat dalam kitab Wushul Al Wushul merupakan rangkaian wirid atau zikir yang disusun oleh Syaikh Ahmad Zarruq. Wirid ini banyak dibahas oleh para Ulama’ melalui kitab Syarah, diantaranya kitab Kifayatul Murid, Al-Anwar As-Saniyyah fi Syarhi al-Wadzifah az-Zarruqiyyah, Al-Minah adz-Dzauqiyyah, dan Al-Anwar al-Qudsiyyah fi Syarhi al-Wadzifah az-Zarruqiyyah karena memuat sejumlah bacaan mencakup surat Al-Fatihah, Ayat Kursi, Tahlil, Istighfar, dan Sholawat Nabi. Menurutnya pengamalan wirid ini tidak hanya menekankan pembacaan tetapi juga pemahaman terhadap makna setiap bacaan.
“Setiap amalan ibadah baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang tidak dipahami maknanya maka amalan tersebut merupakan amalan yang kurang”, ungkapnya.
Dalam kajian tersebut, Syaikh Mehanna juga menjelaskan bahwa membaca Wadzifah Zarruqiyyah tidak hanya memperhatikan bacaan, tetapi juga perlu dilakukan dengan sikap dan kondisi yang mendukung kekhusyukan. Ia menyampaikan beberapa hal yang dianjurkan saat mengamalkannya.
“Ada beberapa hal yang dianjurkan ketika membaca Wadzifah Zarruqiyyah. Di antaranya adalah dalam keadaan suci, menghadap kiblat, menghadirkan hati, memahami bacaan yang dibaca, serta tidak sibuk dengan hal-hal lain ketika sedang berzikir”,ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Syaikh Abdhusshomad Muhanna juga mengajak peserta mengamalkan Wadzifah Zarruqiyyah secara bersama-sama. Ia menjelaskan bahwa wirid tersebut lazim dibaca secara berjamaah dan jahr (bersuara keras).
Syaikh Muhanna, yang juga merupakan Mursyid Thariqah Muhammadiyah Syadziliyyah, turut mengulas pokok-pokok ajaran Thariqah Syadziliyah yang dikenal dengan istilah al-Ushul al-Khamsah. Lima pokok tersebut meliputi takwa kepada Allah lahir dan batin, mengikuti sunnah Rasulullah SAW, berserah diri kepada Allah, menerima pemberian-Nya, serta tetap berpegang teguh kepada Allah dalam keadaan senang maupun susah.
“Dari lima pokok ajaran tersebut, ada satu yang menjadi dasar utama dari tarekat Muhammadiyah Syadziliyyah yaitu kembali kepada Allah SWT karena hal itulah yang paling penting. Bahkan disebutkan dalam salah satu hadist Nabi”,imbuhnya.
Majelis Ilmu dan Dzikir UAC menjadi ruang untuk memperdalam pemahaman tasawuf melalui pengenalan Wadzifah Zarruqiyyah dan ajaran Thariqah Muhammadiyah Syadziliyyah. Kajian ini menekankan pentingnya memahami makna zikir, menjaga adab dalam beribadah, serta menjadikan kembali kepada Allah SWT sebagai dasar dalam kehidupan.

