DARI PESANTREN KE RUANG AKADEMIK: MAHASANTRI MEMBANGUN INTELEKTUALITAS BERBASIS AKHLAK

Oleh Dr. Fina Surya Anggraini, M.Pd.I
Penulis adalah Kaprodi S2 Pendidikan Agama Islam

Pesantren memiliki peran krusial dalam membentuk manusia yang berilmu, berakhlak dan peduli terhadap kehidupan masyarakat. Di pesantren, santri tidak hanya diajarkan untuk mendalami ilmu agama tetapi juga ditempa untuk menanamkan nilai kesederhanaan, kemandirian, kedisiplinan, dan penghormatan terhadap nilai dan ilmu. Penanaman nilai-nilai tersebut menjadi bekal yang  berharga bagi santri untuk melangkah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Menjadi mahasantri bukan sekedar menjalani aktifitas sebagai mahasiswa dan santri, tetapi lebih kepada memiliki tanggungjawab untuk mengitegrasikan nilai spiritual dan keluasan intelektual. Keduanya memiliki nilai seimbang. Pada dunia akademik, mahasantri dituntut untuk memiliki sikap berfikir kritis, memiliki keberanian untuk diuji berdasarkan argumentasi yang dapat dibuktikan dan dipertanggungjawabkan serta keterbukaan terhadap gagasan baru. Sedangkan di pesantren, santri diajarkan ketaatan dan ketawaduan.

Melihat konteks ini, intelektualitas berbasis akhlak menjadi prinsip yang relevan untuk terus diperkuat. Kecerdasan tidak dapat diukur hanya dengan nilai akademik yang tinggi, kemampuan berargumentasi atau banyaknya gelar yang diperoleh. Kecerdasan mahasantri juga perlu tercermin dengan bagaimana mereka memperlakukan orang lain, menghargai perbedaan pendapat, menggunakan pengetahuan serta mengambil keputusan. Mahasantri mungkin memiliki kemampuan intelektual yang tinggi tetapi tanpa akhlak, ilmu akan beresiko membenarkan kesalahan, merendahkan orang lain atau menggunakannya untuk kepentingan pribadi.

Scroll to Top