Mojokerto, Bidik – Universitas KH. Abdul Chalim Mojokerto (UAC) menggelar seminar bertajuk “Sufi Mindset: Dari Luka Menuju Makna – Dialog tentang Hidup, Kerja, Relasi, dan Pencarian Makna” pada Sabtu (08/08/2026) yang bertempat di Aula Gedung Pascasarjana lantai 3 UAC, yang menghadirkan Syaikh Prof. Dr. Mohammed Abdel Samad Mehanna, Guru Besar Universitas Al Azhar Al-Syarif Mesir, Syaikh Sunni Tasawuf dan Mursyid Thariqah Muhammadiyah Dardiriyah Syadziliyah. Pakar hukum internasional, pendiri Lembaga Sufi dan Filantropi Bayt Muhammadi sekaligus penasihat Imam Besar Al Azhar Mesir.
Turut mendampingi Guru Besar Universitas Al Azhar Mesir Syaikh Prof. Dr. M. Farag Salim Al-Azhari, dan Syaikh Ahmad Muhammad Mubarok. Acara tersebut dihadiri oleh Rektor UAC Dr. KH. Mauhibur Rahman, Lc., MIRKH, jajaran Dekanat, Kaprodi, Dosen, serta Civitas Akademika UAC, Tamu Undangan, Guru dan Santri PP. Amanatul Ummah Program Timur Tengah.

Acara dibuka oleh Dekan Fakultas Dakwah dan Ushuluddin selaku ketua panitia pelaksana kegiatan tersebut, Dr. H. M. Chabibi, Lc., M. Hum., M. IP., dalam sambutan berbahasa Arab, Dr. Chabibi menyambut hangat kehadiran Syaikh Mehanna dan mengapresiasi kehadiran Syaikh Mehanna dan rombongan Universitas Al-Azhar As-Syarif. Ia berharap kegiatan tersebut menjadi ruang bertukar gagasan dan membahas persoalan kehidupan melalui perspektif tasawuf.
“Pertemuan kita hari ini merupakan kesempatan penting dan luar biasa untuk saling bertukar gagasan dan pengalaman,” ujarnya.
Lebih lanjut, Limmatus Sauda, M. Hum., selaku Wakil Dekan Fakultas DAUS UAC dan Wakil Ketua Panitia Pelaksana, dalam wawancara dengan tim Bidik menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan memperluas pemahaman tentang tasawuf dan penerapannya dalam kehidupan profesional, pendidikan, maupun sosial.
“Jadi tasawuf tidak hanya fokus ke akhirat, tapi dunianya juga harus dijaga. Kita menjadi apa pun, menjadi mahasiswa, guru, atau profesi lainnya, tasawuf itu tetap bisa diterapkan,” jelasnya.
Dalam pemaparannya, Syaikh Mehanna menjelaskan bahwa seorang sufi tidak hanya melihat sesuatu dari sisi lahiriah, tetapi juga berusaha memahami makna di balik setiap peristiwa yang terjadi.
“Manusia perlu memahami apa yang Allah kehendaki melalui keadaan yang sedang dialaminya,” tegasnya.
Syaikh Mehanna kemudian menjelaskan makna faqir dalam tasawuf. Menurutnya, fakir tidak semata-mata berarti miskin secara materi, tetapi merupakan kondisi ketika manusia menyadari bahwa dirinya selalu membutuhkan Allah SWT.
Untuk memperkuat penjelasannya, Syaikh Muhanna memberikan contoh Nabi Sulaiman dan Nabi Ayyub, yang sabar menghadapi ujian, sebagai bentuk penerimaan terhadap ketetapan Allah SWT
“Ketika dalam keadaan nikmat, kita bersyukur, dan ketika kita diberi ujian, kita harus bersabar,” tambahnya.
Kegiatan tersebut dikemas dalam bentuk dialog antara peserta dan Syaikh Mehanna mengenai berbagai persoalan kehidupan dari perspektif tasawuf. Sejumlah mahasiswa turut mengajukan pertanyaan terkait pengenalan Allah, perjalanan spiritual, hubungan, dan kehidupan sehari-hari.
Salah satu mahasiswa mempertanyakan apakah seseorang harus mengikuti tarekat atau menjadi seorang sufi untuk dapat mengenal Allah SWT. Menanggapi hal tersebut, Syaikh Mehanna menjelaskan bahwa perjalanan mengenal Allah SWT dapat ditempuh melalui penyucian hati atau jiwa (tazkiyatun nafs).
“Merujuk pada perjalanan Imam Al Ghozali yang melalui berbagai metode pencarian pengetahuan hingga menemukan bahwa hakikat pengetahuan tentang Allah SWT berkaitan dengan penyucian hati”, imbuhnya.
Seminar Sufi Mindset UAC mengajak mahasiswa memahami tasawuf dalam kehidupan sehari-hari, serta memaknai berbagai persoalan hidup melalui penyucian hati dan kedekatan kepada Allah SWT.

