Seminar Tafsir Nusantara: Mengurai Sejarah, Metodologi, dan Konteks Penafsiran Al-Qur’an
Mojokerto, Bidik – Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Universitas KH. Abdul Chalim (UAC) sukses menyelenggarakan seminar bertema “Dinamika Tafsir Nusantara: Sejarah, Metodologi, dan Kontribusi” pada Sabtu siang, (25/4/2026).
Kegiatan ini menghadirkan narasumber Dr. KH. A. Musta’in Syafi’ie, M.Ag., seorang pakar tafsir Al-Qur’an yang juga dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng serta Ketua Dewan Masyayikh.

Seminar yang diikuti oleh mahasiswa dan akademisi ini bertujuan memperkaya pemahaman tentang perkembangan tafsir Al-Qur’an di Nusantara, baik dari aspek historis maupun metodologis.
Dalam pemaparannya, Dr. KH. A. Musta’in Syafi’ie, M.Ag., menekankan bahwa tafsir Nusantara memiliki karakteristik unik karena dipengaruhi oleh latar sosial, budaya, dan bahasa masyarakat Indonesia.
“Bahasa itu banyak, tetapi sering kali tafsirannya tampak sama. Namun jika ditelusuri lebih dalam, perbedaan konteks menjadi kunci penting dalam memahami makna yang sebenarnya,” ungkapnya di hadapan peserta seminar.
Ia menjelaskan bahwa keragaman bahasa di Nusantara berimplikasi pada beragamnya cara memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Menurutnya, penafsiran tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial dan historis masyarakat yang melingkupinya. Oleh karena itu, pendekatan tafsir di Indonesia cenderung adaptif dan kontekstual.
Lebih lanjut, ia menguraikan bahwa sejarah tafsir di Nusantara tidak hanya berkutat pada penerjemahan teks, tetapi juga mencerminkan dinamika intelektual umat Islam dalam merespons perubahan zaman. Metodologi yang digunakan pun berkembang, mulai dari pendekatan tradisional berbasis riwayat hingga pendekatan modern yang lebih rasional dan kontekstual.
Seminar ini diharapkan mampu membuka wawasan mahasiswa IAT mengenai pentingnya memahami tafsir secara komprehensif serta tidak terjebak pada pemaknaan tekstual semata. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi akademik untuk terus mengembangkan kajian tafsir yang relevan dengan konteks keindonesiaan.
Dengan terselenggaranya seminar ini, Prodi IAT menunjukkan komitmennya dalam membangun tradisi akademik yang kritis, kontekstual, dan berakar pada khazanah keilmuan Islam Nusantara. (sha)
