News

Himaprodi PAI UAC Sukses Gelar FESPA 2026: Kolaborasi Spiritualitas dan Budaya

Mojokerto, Bidik – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HIMAPRODI) Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas KH. Abdul Chalim (UAC) Mojokerto, kembali menghidupkan syiar Islam melalui seni dan kecerdasan dalam ajang Festival Event of PAI (FESPA). Dengan mengusung tema “Menyulam Spiritualitas dan Budaya dalam Irama Kolaborasi yang Inklusif“, acara ini berlangsung khidmat di lingkungan kampus pada Sabtu, (3/01/26).

Tahun ini, FESPA hadir dengan format yang lebih fokus dan intim melalui dua cabang lomba utama, yakni Musabaqah Fahmil Qur’an (MFQ) dan Festival Banjari. Acara ini dihadiri langsung oleh Kaprodi PAI, Pembina FESPA Muhammad Husnur Rofiq, M.Pd.I., serta Dr. Hj. Farida Ulvi Na’imah, M.H.I., dan Dr. Muslihun, Lc., M.Fil yang turut memberikan dukungan moral bagi para peserta.

Ketua Pelaksana FESPA, Hamdan Ismanto, menjelaskan bahwa pemilihan dua cabang lomba ini merupakan hasil evaluasi strategis dari tahun-tahun sebelumnya. Ia menyatakan bahwa FESPA merupakan bentuk revitalisasi modern dari acara yang dulunya bernama MTQ.

“Secara historis, dua tahun lalu cabang lombanya sangat banyak hingga panitia kewalahan. Sejak angkatan 22, nama FESPA lahir sebagai wajah baru yang lebih modern. Tahun ini, kami sepakat fokus pada dua mata lomba saja agar pengkondisian peserta, baik internal maupun eksternal, jauh lebih maksimal dan berkualitas,” ujar Hamdan.

Kolaborasi antara nilai keislaman dan seni menjadi nyawa utama dalam festival ini. Panitia secara khusus memilih Banjari karena melihat kedekatan historis mahasiswa PAI yang sangat lekat dengan budaya tersebut. Hingga memasuki pelaksanaan tahun kedelapan ini, Himaprodi PAI terus konsisten mewadahi bakat-bakat seni religius mahasiswa melalui program kerja banjarian.

Melalui kegiatan FESPA, Hamdan menaruh harapan besar agar kegiatan ini tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga menjadi wadah pengabdian nyata.

“Harapan kami, pertama tentu untuk menambah pengalaman bagi warga PAI. Kedua, ini adalah bentuk pengabdian. Kami ingin membuktikan bahwa Pendidikan Agama Islam bukan sekadar teori di dalam kelas, tapi harus dipraktikkan. Kami mewadahi para pecinta Al-Qur’an dan pecinta Sholawat agar mereka memiliki panggung untuk terus mengembangkan bakatnya,” pungkasnya.

Dengan suksesnya gelaran FESPA 2026 membuktikan bahwa spiritualitas dan budaya dapat berjalan selaras dalam harmoni kolaborasi yang inklusif.(xm)