DNS UAC Bekali Mahasiswa Baru dengan Edukasi Pencegahan Kekerasan Seksual, Nilai Kepesantrenan, dan Budaya Kampus

Mojokerto, Bidik -Universitas KH. Abdul Chalim (UAC) Mojokerto membekali mahasiswa baru dengan edukasi pencegahan kekerasan seksual, nilai kepesantrenan, serta pemahaman budaya kampus melalui kegiatan Dedication of New Student (DNS) yang berlangsung di masjid kampus pada Sabtu, (10/10/2026).

Ketiga materi tersebut diberikan kepada mahasiswa untuk meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya menciptakan lingkungan kampus yang aman dan nyaman.

Salis Khoiriyati, M. Psi selaku pemateri pertama Dalam pemaparannya, menegaskan bahwa siapa pun, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki potensi untuk menjadi korban maupun pelaku. Mengingat maraknya kasus kekerasan di era digital, mulai dari hubungan pacaran yang tidak sehat (red flag) dengan prinsip “dekat bukan berarti memiliki, pernah setuju bukan berarti selalu setuju”, hingga ancaman penyebaran konten pribadi akibat kurang bijaknya penggunaan media sosial mahasiswa diimbau untuk senantiasa berpikir kritis, meningkatkan kepedulian (awareness).

Pemateri kedua Dr. H. M. Chabibi, Lc., M.Hum., M.IP. Menekankan bahwa Integrasi nilai kepesantrenan dan kemahasiswaan sangat penting karena kampus “bukan hanya mencetak ilmuwan saja, tetapi juga peradaban” yang menyeimbangkan intelektualitas dan spiritualitas, sebagaimana Ia menyampaikan bahwa “meninggalkan kemahasiswaan berarti Anda meninggalkan entitas berpikir, meninggalkan kepesantrenan berarti Anda meninggalkan entitas spirit”. Keseimbangan ini dibangun melalui aktivitas akademik, organisasi, pengajian, dan pembiasaan ibadah serta bahasa asing yang dimana Ia berharap “pembiasaan-pembiasaan ini saya harapkan bisa menopang kesempatan atau peluang Anda menjadi orang sukses di masa depan”.

Sementara itu, Dr. Muslihun, Lc., M.Fil.I. Mengingatkan para mahasiswa agar selalu meluruskan niat utama untuk menuntut ilmu, dengan berpesan, “tujuan kalian itu tiada lain ke sini adalah untuk menuntut ilmu” serta menegaskan pentingnya budaya membaca dengan mengutip anjuran bahwa “seorang mahasiswa yang ideal, dianya harus membaca buku sebanyak 50 halaman selama satu hari”. Selain itu, mahasiswa sebagai kaum intelektual dan agen perubahan juga diingatkan untuk dapat membedakan antara kebutuhan hidup dan gaya hidup agar tidak salah arah, serta senantiasa menjaga etika, akhlak, dan peran mereka sebagai santri yang membawa nama baik almamater pesantren.

Scroll to Top