Surabaya, Bidik – Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) dan Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) menggelar seminar nasional pengusulan pahlawan Nasional untuk KH. Yusuf Hasyim putra sang pendiri Nahdlatul Ulama Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Kegiatan Seminar tersebut berlangsung di Aula JKSN PP. Amanatul Ummah Surabaya pada hari Rabu pekan ini (15/07/26).
Dalam pemaparannya Ketua Umum Pergunu Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A. menyebut KH. Muhammad Yusuf Hasyim telah memenuhi syarat sebagai pahlawan nasional berdasarkan kelengkapan dokumen dan hasil kajian sejarah.
“Seminar ini kita laksanakan untuk menyemarakkan informasi dan mem-blow up bahwa KH. Muhammad Yusuf Hasyim telah memenuhi syarat. Artinya, beliau tinggal menunggu waktu untuk ditetapkan sebagai pahlawan nasional,” kata Kiai Asep dalam Seminar Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional KH. Muhammad Yusuf Hasyim tesebut.

Ketua Umum Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) tersebut menjelaskan usulan KH. Muhammad Yusuf Hasyim atau Pak Ud sebelumnya telah melalui tahapan penilaian Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) hingga masuk dalam 20 nama yang diajukan kepada Presiden.
Dari 48 usulan calon pahlawan nasional yang diseleksi, hanya 20 nama yang diteruskan kepada Presiden, termasuk KH. Muhammad Yusuf Hasyim. Namun, pemerintah akhirnya menetapkan 10 tokoh sebagai pahlawan nasional.
“KH. Muhammad Yusuf Hasyim merupakan bagian dari 10 nama yang belum ditetapkan dari 20 usulan tahun lalu. Tentunya nanti akan mendapatkan prioritas,” ujarnya.
Kiai Asep yang juga PP. Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto tersebut mengatakan kelengkapan naskah akademik menjadi salah satu kekuatan utama usulan tersebut. Buku KH. Muhammad Yusuf Hasyim: Hidup, Pemikiran, dan Keperjuangannya memuat sekitar 120 sumber, terdiri atas 76 sumber primer dan sisanya sumber sekunder.
Ia menilai jumlah sumber primer itu merupakan yang paling lengkap dibandingkan usulan tokoh lain yang masuk pembahasan Dewan Gelar pada tahun sebelumnya.
Kiai Asep juga mengajak media massa ikut menyebarluaskan informasi mengenai perjuangan KH. Muhammad Yusuf Hasyim.
Lebih lanjut, menurut Kiai Asep seluruh pemberitaan akan dikompilasi dan disampaikan kepada Ketua TP2GP serta anggota Dewan Gelar sebagai bentuk dukungan terhadap pengusulan tersebut.
Sementara itu, Ketua TP2GP Prof. Usep Abdul Matin mengatakan naskah akademik pengusulan KH. Muhammad Yusuf Hasyim disusun dengan bertumpu pada sumber primer yang kuat sehingga memiliki tingkat validitas tinggi.
“Dari 120 sumber yang kami gunakan, 76 merupakan sumber primer, baik dari arsip Belanda, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Perpustakaan Nasional, Perpustakaan Pesantren Tebuireng, maupun dokumen keluarga KH Muhammad Yusuf Hasyim,” katanya.
Usep menjelaskan penggunaan sumber primer bertujuan menghadirkan narasi perjuangan yang sedekat mungkin dengan fakta sejarah sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Berdasarkan hasil kajian tersebut, lanjut Kiai Asep, KH. Muhammad Yusuf Hasyim konsisten memperjuangkan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), termasuk menghadapi pengaruh komunisme sejak dekade 1940-an hingga menjelang wafatnya.
Ia menambahkan seluruh tuduhan yang pernah diarahkan kepada KH. Muhammad Yusuf Hasyim telah diverifikasi melalui dokumen pemerintah, arsip, dan berbagai sumber primer sehingga tidak ditemukan fakta yang menggugurkan kelayakannya sebagai calon pahlawan nasional.
“Beliau betul-betul seorang calon pahlawan nasional yang sangat memenuhi syarat untuk menjadi pahlawan nasional,” kata Usep.
Sebelumnya telah banyak dipaparkan bahwa KH. M. Yusuf Hasyim memang dikenal sebagai tokoh pejuang kemerdekaan RI sejak usia muda, terutama sebagai tokoh Laskar Hizbullah. Kiai Yusuf Hasyim terlibat perjuangan fisik dan bahkan memimpin perjuangan menumpas PKI yang memberontak pada pemerintah Indonesia yang sah.
Ketika Hizbullah melebur ke TNI KH. M. Yusuf Hasyim sempat aktif sebagai tentara. Sampai berpangkat Letnan Satu. Namun putera Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ri itu kemudian mengundurkan diri dari TNI. KH. M. Yusuf Hasyim kemudian memilih perjuangan politik.
KH. M. Yusuf Hasyim menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng terlama setelah Hadratussyaikh KH. M Hasyim Asy’ari. Beliau mengasuh Pesantren Tebuireng sejak 1965 hingga 2006. Selama 41 tahun.
